Aku Yosita dan hidupku penuh dengan perjuangan dan perjalanan yang tidaklah mudah.
Aku terlahir prematur, dengan berat badan yang kurang dari 3 kg, harus masuk inkubator dan menjalani perawatan intensif supaya warna kulitku yang awalnya membiru, bisa kembali normal.
Saat aku memasuki usia sekolah, aku merasakan kehidupan sebagai anak – anak yang cukup ceria, meskipun secara akademik, nilai – nilai pelajaranku tidak sebagus adikku.
Ya, aku bersekolah di sekolah yang sama dengan adikku, kami seangkatan sejak TK, karena kami hanya berbeda usia 11 bulan.
Masa – masa SD
Awalnya aku menjalani masa sekolahku di SD secara normal. Namun tidak bisa aku pungkiri, sebagai seorang anak SD, kehidupanku sedikit berbeda dengan anak – anak seumuranku. Karena mami mendidikku dengan cara didik yang cukup keras.
Pada pagi hari hingga siang hari, aku sibuk bersekolah dan menjalani kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Setelah pulang sekolah, aku hanya punya waktu beberapa jam saja untuk istirahat tidur siang dan makan siang, karena pada jam 3 sore, aku dan adikku harus datang untuk les sempoa di sebuah tempat les, hingga jam 5 sore.
Selesai les sempoa, terkadang aku dan adikku diajak berjalan – jalan keliling kota atau sekedar makan malam bersama di sebuah tempat makan, berbelanja kebutuhan rumah dan baru sampai rumah pada jam 9 malam.
Dalam lelahku, kadang aku harus bisa menahan kantuk, untuk mengerjakan PR dan menyiapkan buku sesuai jadwal pada hari sekolah esok hari. Dan baru bisa masuk kamar untuk beristirahat pada jam 10 malam.
Setiap pagi, selama masa sekolah, aku selalu bangun jam setengah 6 pagi dan segera bersiap – siap mandi, sarapan dan berangkat sekolah pada jam setengah 7 pagi. Begitu terus setiap hari. Dan bukan hanya itu, suasana belajarku bersama mami di rumah, biasanya berjalan cukup menegangkan. Karena ketika aku mengerjakan PR bersama mami, mami sering mengataiku otak udang, ketika aku salah menjawab sebuah soal. Dan hal itu berlangsung setiap hari.
Sakit demam berdarah dan tifus
Pada suatu malam, aku bermain air bersama tetanggaku dan adikku. Awalnya kami menikmati permainan itu, hingga kami kelelahan dan memutuskan untuk pulang ke rumah kami masing – masing untuk segera tidur, karena besok pagi aku dan adikku harus pergi ke sekolah.
Tapi saat aku akan pergi tidur, aku merasakan bahwa badanku demam. Dengan segera aku memberi tahu mami tentang kondisiku. Dengan kepala yang sedikit pusing, aku berkata kepada mami bahwa aku sedang tidak enak badan. Dan mami memeriksa keadaanku dengan tangannya. Dan memang, menurut mami badanku sedikit demam. Lalu aku pamit untuk segera tidur, supaya sakit di kepalaku segera membaik ketika tidur.
Namun sayangnya, di keesokan harinya, badanku masih demam dan kepalaku juga semakin pusing. Jadilah hari itu aku tidak pergi ke sekolah. Dan kondisi ini semakin memburuk, selama 2 minggu lamanya.
Dengan penuh rasa khawatir, orang tuaku berbisik di suatu malam, dan mereka berencana membawaku ke rumah sakit. Tapi karena aku mendengar percakapan mereka dalam tidurku, aku segera menolak ketakutan.
Dan pada hari minggu siang, setelah keluargaku pulang dari gereja, mereka membawa seorang tamu, jemaat gereja yang kebetulan adalah seorang perawat di RS Wira Bakti Tamtama Semarang, untuk membantu mami papi untuk membujukku.
Lalu perawat itu memeriksa keadaanku dan denyut nadiku yang mulai lemah. Dengan lembut ia berkata “Dek, adek mau sembuh nggak? Kalau kamu mau sembuh, nurut, yuk sama Tante , ya Nak! Kita periksa ke dokter, ya?”
Tanpa bisa menolak lagi, aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju garasi dan bersiap – siap pergi ke dokter.
Dan sesampainya di klinik seorang dokter anak, aku bertemu dengan seorang kakek – kakek berambut putih, bertubuh gemuk tinggi bernama dr. Bahctin, Sp. A, yang ternyata berpraktek di rumah sakit yang sama dengan perawat jemaat di gerejaku. Dan aku didiagnosa menderita Demam berdarah dan harus segera mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, karena kondisiku sudah cukup lemah. Aku kembali tidak bisa menolak.
Sesampainya di rumah sakit, aku diantar ke sebuah kamar yang ditunjuk papi sebagai kamarku, selama aku menjalani perawatan di rumah sakit. Dan dengan cekatan, para perawat yang bertugas segera memasang selang infus pada tangan kananku. Setelah selang infus berhasil terpasang, aku diminta untuk minum obat puyer yang dilarutkan dengan sesendok makan sirup berwarna merah. Tapi obat itu tidak berhasil masuk ke dalam tubuhku karena aku muntah.
Lalu aku tiduran di tempat tidurku, namun tiba – tiba aku merasakan dingin di sekujur tubuhku dan tiba – tiba aku kejang, lidahku hampir tergulung dan aku dipaksa menggigit sendok. Seketika mami menangis panik dan menuntunku untuk berdoa. Dan dengan sigap, aku disuntikkan obat penenang dan akhirnya aku tertidur sampai sore hari.
Saat aku bangun, aku mencoba untuk mengingat apa yang sedang terjadi dan orang tuaku lega melihatku terbangun. Karena kata dokter, aku hanya merasakan serangan panik, maka saat selang infus sudah terpasang, aku mengalami kejang.
Setelah menjalani perawatan selama 1 minggu di rumah sakit tersebut, aku akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah dengan catatan aku harus menjaga kesehatanku dan tidak boleh terlalu lelah dalam menjalani aktivitas.
Aku senang bisa segera pulang ke rumah. Tapi kebahagiaan itu hanya sementara. Karena 2 hari kemudian, aku kembali merasakan demam tinggi dan kembali dibawa ke klinik. Dan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa aku harus menjalani rawat inap kembali. Akhirnya aku kembali ke rumah sakit yang sama, bertemu dan dirawat oleh dokter yang sama. Namun bedanya, kali ini rawat inapnya lebih lama. Hingga aku merasa bosan di rumah sakit dan ingin segera bisa bersekolah lagi. Hingga aku dibawakan buku pelajaran sempoa untuk aku pelajari di rumah sakit. Tidak hanya itu, setiap pulang kerja, papi juga membelikan aku majalah Bobo untuk aku baca selama di rumah sakit. Di minggu – minggu terakhir aku di rumah sakit, aku semakin merasa bosan dengan rutinitas minum obat, cek darah, transfusi, dan lain – lain di rumah sakit, hingga papi berinisiatif membawakan sebuah TV 14 inchi & Playstation untuk aku bermain.
Masih merasa bosan, tiba – tiba di suatu siang aku berkata pada mami bahwa aku lupa bagaimana rumahku. Aku ingin pulang. Hingga akhirnya, mami meminta izin pada perawat yang seorang jemaat gereja untuk membawaku jalan – jalan dan pulang sebentar. Dan hal itu disetujui oleh perawat dengan satu syarat, jika aku harus sudah sampai di rumah sakit sebelum jam 8 malam. Dan sore itu infusku dilepas untuk sementara, supaya aku bisa menikmati waktuku di luar rumah sakit.
Dalam perjalanan, papi bertanya apakah aku ingin membeli tas dan perlengkapan sekolah, karena sebentar lagi adalah waktunya kenaikan kelas. Dan aku mengangguk. Lalu papi membawaku pergi ke sebuah toko buku terdekat dari rumah sakit dan akupun membeli tas dan perlengkapan sekolah. Aku duduk di sebuah bangku plastik dan mulai sibuk memilih tas sekolah.
Setelah selesai belanja perlengkapan sekolah, papi mengajakku pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti. Aku hanya bisa tertidur di tempat tidur depan TV, sambil minum teh hangat dan menunggu mami menyiapkan baju yang akan dibawa ke rumah sakit.
Setelah semua selesai, kami kembali ke rumah sakit sebelum jam 8 malam, karena jam tersebut dokterku akan datang berkunjung. Akhirnya, saat aku sudah kembali ke rumah sakit, aku kembali dipasangi selang infus, bahkan sempat berpindah kamar di hari berikutnya, supaya aku tidak merasa bosan. Di saat aku rawat inap waktu itu, aku juga sempat diminta untuk memeriksa kondisi paru – paruku dengan rontgen. Dan kebetulan ruang rontgen di rumah sakit itu ada tepat di depan garasi ambulance. Saat itu ruang rontgen sedang antri dan aku terpaksa menunggu di luar ruangan yang menghadap di depan pintu sopir ambulance. Mobil itu kosong, namun di otakku aku melihat ada seorang korban tabrak lari di belakang kemudi. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah lain sambil tetap duduk di kursi rodaku. Dan sekembalinya aku dari ruang rontgen, saat tepat adzan Jum’at berkumandang, aku merasa telingaku berdenging dengan suara ambulance. Aku berteriak histeris ketakutan. Dan sejak saat itu, aku takut pada ambulance. Setiap aku mendengar suara sirine, kepalaku terasa pusing, badanku terpaku ketakutan.
Lalu akhirnya, karena tidak ada perkembangan saat rawat inap, aku memaksa untuk pulang dalam kondisi apapun. Dan dokterku setuju, tapi dengan sebuah syarat. Jika aku mengalami kekambuhan saat sudah keluar dari rumah sakit itu, hal itu bukan lagi tanggung jawab dokter. Dan orang tuaku setuju. Aku pulang keesokan harinya.
Namun, saat sudah sampai di rumah, saat aku sedang istirahat, pada jam 3 sore, tubuhku kembali mengalami demam tinggi. Dan dikarenakan perjanjian dengan dokter sudah disepakati, maka aku tidak bisa kembali ke rumah sakit itu lagi. Lalu papi meminta bantuan seorang jemaat gereja lagi yang adalah seorang dokter spesialis anestesi. Papi mami meminta saran, harus membawaku berobat ke mana.
Setelah jemaat tersebut datang melihat kondisiku, ia merujukku kepada teman sejawatnya yang adalah seorang profesor spesialis anak di RS Elisabeth Semarang. Dan pada malam harinya, aku pergi ke rumahnya dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Di rumah sakit, aku histeris kesakitan saat para perawat memasangkan selang infus. Mami hanya bisa menenangkanku sambil memohon pada perawat untuk memasang selang infus dengan perlahan karena aku sudah trauma.
Aku menjalani perawatan di RS Elisabeth Semarang bersama Prof. Soemantri selama 8 hari lamanya.
Setiap hari aku harus transfusi darah, cek darah, dipasang selang trombosit dan hemoglobin supaya kondisiku stabil.
Pada saat itu, sedang masa ujian kenaikan kelas dan aku terpaksa menjalani ujian susulan, karena mami tidak mengizinkan aku untuk melakukan ujian di rumah sakit.
Di tengah rasa bosan, setiap dokterku visit, aku selalu menangis minta pulang. Tapi di suatu siang dokterku hanya diam dan menarik mami keluar kamar untuk bicara. Setelah itu, dokterku pamit dan mami masuk menenangkanku. Mami hanya berkata bahwa aku harus sabar jika ingin cepat pulang.
Di sore harinya, setelah aku selesai dimandikan, mami mandi sore. Sambil menunggu, aku melihat botol infusku yang masih agak penuh dan berkata dalam hati “Tuhan, jika Tuhan ingin aku pulang bersamaMu sekarang, aku siap. Tapi jika Tuhan ingin aku sembuh dan melanjutkan hidup, aku ingin pulang.”
Dan keajaiban pun terjadi. Tuhan mendengar doaku. Saat dokterku visit kembali, ia berkata bahwa aku sudah boleh pulang esok hari. Dan infus akan segera dilepas pada malam hari, saat semua botol infusku habis.
Dan aku benar-benar pulang ke rumahku dan melanjutkan hidup.Tapi sejak aku sembuh, orang tuaku menjadi sangat over protective kepadaku. Setiap aku pergi harus ada yang menemani, aku tidak boleh terlalu lelah menjalani kegiatan di sekolah, dan jika terjadi sesuatu padaku di sekolah, papi tidak segan – segan menegur guruku di sekolah.
Masa kecil yang kelam
Aku lupa, ini terjadi saat aku menginjak usia berapa, tapi yang aku ingat jelas adalah kejadian buruk di suatu malam, di pinggir jalan, selesai makan sate. Karena sate yang aku makan tidak bisa aku habiskan, maka mami marah besar padaku dan tidak mengizinkan aku untuk ikut masuk ke dalam mobil yang kami tumpangi. Aku terkunci dari luar, aku mencoba mengetuk jendela, tapi papi pun hanya diam. Aku menangis begitu kerasnya, hingga banyak orang yang melihat iba ke arahku. Hingga setelah beberapa menit kemudian kakakku membukakan pintu untukku. Aku terdiam di dalam mobil, menahan malu dan marahku, sambil mengusap air mataku. Dan kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah pusat perbelanjaan.
Itulah cara mami mendidikku. Dan papi hanya bisa mengikuti, jika mami sudah berkehendak. Dan hal itu berlaku juga ketika di rumah.
Saat aku kekenyangan, aku pernah diam – diam membuang sisa nasi ke tempat sampah di dapur. Ternyata papi tahu bahwa ada sisa nasi di tempat sampah yang cukup banyak. Dan papi bertanya padaku, apakah nasi itu milikku. Dan saat aku mengaku, aku dipaksa memakan sisa nasi itu sampai habis di depan papi. Ketika mami melihat hal itu, mami pun ikut menjadi marah padaku. Dan aku menangis, berteriak minta ampun.
Aku tahu, bahwa sebenarnya papi tidak tega padaku. Ia melakukan itu hanya karena teringat pada masa kecilnya yang hidupnya sangat sulit ia jalani, hanya berdua dengan emak ( nenekku dari papi). Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, papi dan emak berjualan gorengan setiap hari di pinggir jalan. Begitu kata papi jika mengingat masa kecilnya. Namun pola asuh yang cukup keras inilah yang membuatku trauma.
Sisi lain papi
Di luar kerasnya sikap papi, sebenarnya papi adalah tipe orang tua yang mau mendengarkan pendapat dan cerita yang disampaikan oleh anak – anaknya. Maka dari itu, aku suka bercerita tentang apapun setiap hari kepada papi. Sesibuk apapun, papi selalu ingin tahu perkembangan anak – anaknya di rumah. Dan papi tipe orang yang menerapkan konsep kebebasan yang bertanggung jawab. Jadi, apapun pilihan hidup anaknya, papi akan selalu mendukung, selama kami bisa bertanggung jawab dengan pilihan kami. Papi suka memberi pelukan, pujian, bahkan panggilan sayang kepadaku.
Aku bukan barang yang bisa dibanding – bandingkan
Sejak kecil, mami sering sekali membanding – bandingkan aku dengan adikku, karena secara akademik, adikku lebih pandai dari aku. Tidak hanya itu, mami juga pernah memarahi aku sepulang dari gereja, karena nilai raportku dianggap jelek jika dibandingkan dengan nilai raport teman gerejaku yang kebetulan juga sekelas denganku. Bahkan semua guru di sekolahku juga membanding – bandingkan aku dengan adikku.
Bagaimana perasaanku?
Aku marah, sedih dan kecewa. Bukan hanya kepada adikku, tapi juga kepada mami dan guru – guruku di sekolah.
Harapan papi 1 tahun sebelum meninggal
Seperti yang sudah aku ceritakan di awal, bahwa papi adalah tipe orang yang punya prinsip bebas bertanggung jawab, maka di suatu malam setelah kami makan malam di rumah, kami mengobrol di teras rumah dan papi mengungkapkan harapannya di masa depan terhadapku.
Dalam sebuah percakapan, papi berharap bahwa ia bisa hidup lebih lama lagi dan memiliki banyak uang, untuk bisa menguliahkan aku di kampus yang bagus, yang menjadi pilihanku, di luar atau di dalam negeri. Dan papi berharap juga bahwa ia bisa melihatku minimal berkuliah hingga jenjang pendidikan S2. Katanya “Yah, minimal S1 lah ya.” karena menurutnya, jika aku hanya lulus SMA, nantinya di masa depan aku akan kesulitan mencari pekerjaan.
Dan saat berlangsungnya percakapan itu, aku sempat berangan – angan bahwa aku ingin berkuliah hingga jenjang S2 di bidang seni teater.
Untuk jenjang S1, aku memilih ingin berkuliah di Institut Kesenian Jakarta dan jenjang S2 di University of the arts Singapore dengan jurusan yang sama. Maka saat itu juga aku berkata bahwa aku ingin mengikuti les bahasa Mandarin, supaya aku bisa mewujudkan keinginanku di masa depan. Namun sayangnya, mami langsung melarangku untuk mengikuti les bahasa Mandarin, dengan alasan aku sudah terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan les di tempat lain. Aku kecewa…
Namun di suatu hari yang berbeda, aku punya kesempatan untuk bisa meminta dibelikan buku untuk belajar bahasa Mandarin secara autodidak. Dan papi setuju membelikan aku buku tentang dasar – dasar belajar bahasa Mandarin untuk pemula. Dan aku mempelajari bahasa Mandarin secara autodidak, tidak hanya melalui buku, tapi juga film dan lagu. Supaya aku mengerti percakapan keseharian dalam bahasa Mandarin.
Namun apa yang aku inginkan memang tak seindah angan – angan. Semua rencanaku hancur, karena papi meninggal setahun kemudian secara mendadak di rumah karena serangan jantung. Aku bukan hanya kecewa, tapi juga tak punya semangat hidup sejak itu.
Tragedi tahun 2004, kelas 2 SMP
6 Maret 2004…
Sabtu pagi yang cerah, tapi tidak begitu dengan hatiku, yang sejak pagi sudah merasa gelisah tanpa sebab. Aku seakan tak semangat untuk berangkat ke sekolah.
Dan saat dalam perjalanan menuju ke sekolah, tanpa sengaja aku melihat wajah papi dari spion di dalam mobil. Namun yang terlintas di pikiranku adalah aku melihat papi sudah ada di dalam peti berwarna cokelat, memakai jas hitam, kemeja putih dan dasi, tak lupa memakai sepatu pantofel kesayangannya.
Aku tak terlalu memikirkan hal itu, hingga aku memilih untuk mengalihkan pandanganku ke luar.
Dan saat sudah sampai di sekolah, aku baru menyadari bahwa ada buku pelajaranku yang tertinggal di rumah. Dan aku berkata kepada seorang teman sekelasku bahwa aku ingin pulang, karena ingin menemani papi istirahat di rumah.
Pada jam 7 pagi, setelah aku selesai berdoa untuk mengawali jam pelajaran pertama, guru BP ku masuk ke kelas dan berbisik – bisik pada guru agamaku. Dan guru agamaku mengizinkan aku untuk pulang, tanpa menjelaskan apapun padaku. Aku girang, tersenyum berpamitan pada teman – temanku. Namun saat aku keluar dari kelas, kakak ipar mami memanggilku dan bertanya di mana adikku. Aku bertanya kepadanya ada apa mencari kami sampai ke sekolah, tapi tidak ada jawaban. Dan aku pulang dengan penuh tanda tanya.
Tapi pertanyaanku terjawab, saat tetangga yang mengantarku pulang, tiba – tiba berkata ” Yosi, kalau misal papi meninggal, kamu gimana?”
Aku bingung harus menjawab apa dan berkata “Maksudnya gimana, Tan?”
Lalu ia berkata bahwa papiku meninggal, karena jatuh di garasi dan saat ini ada di rumah.
Aku kaget setengah mati dan ingin segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah, aku segera turun dari motor, dan berlari menuju kamar tidur utama, melempar tas sekolah yang aku bawa di teras. Aku segera masuk ke kamar, dan terlambat. Papi sudah terbujur kaku di tempat tidur dengan terbungkus bed cover biru muda bergambar beruang milik adikku.
Aku segera memegang gagang telepon dengan gemetar dan menelpon ke sekolah untuk mengabarkan berita duka itu. Dan bergantian dengan adikku, kami juga menelepon semua orang yang kami kenal, untuk memberi tahu tentang meninggalnya papi.
Saat mami, kakak dan pendetaku sampai di rumah, mami langsung menangis histeris, memeluk papi yang sudah tidak bergerak. Aku hanya bisa diam terpaku, menyimpan dalam rasa bersalah yang besar dalam hatiku. Seandainya aku segera pulang tadi sebelum jam masuk sekolah, mungkin papi masih bisa ditolong. Dan saat ada seorang tetangga bertanya apakah aku sempat mendapatkan firasat tentang meninggalnya papi, aku hanya bisa menggelengkan kepala lemah, menahan air mata yang hampir jatuh.
Dan apa yang aku lihat dalam pikiranku di pagi hari saat berangkat ke sekolah, benar – benar menjadi kenyataan. Aku melihat papi yang sudah di pindah ke dalam peti, dari jendela lantai 2 di rumahku dan aku kembali terpaku menyalahkan diri sendiri. “Mengapa aku bisa melihat kematian papi, sebelum hal itu terjadi?” Tanyaku dalam hati.
Dan selama prosesi pemakaman sampai penguburan, aku sama sekali tidak nafsu makan dan hanya bisa menangis. Dan sejak hari itu, aku memiliki kemampuan untuk melihat kematian orang lain, sebelum hal itu terjadi. Bahkan hingga hari ini. Aku sering merasa ketakutan ketika secara tidak sengaja, aku melihat bayangan tentang kematian orang lain di sekitarku. Dan aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga yang aku lihat itu tidak terjadi. Tapi apalah dayaku? Kata seorang pendeta, mungkin Tuhan memberikan anugerah penglihatan itu kepadaku dan tidak semua orang bisa begitu. Jadi aku hanya bisa menerima kenyataan itu. Dan sejak papi meninggal, aku tumbuh sebagai anak yang tertutup dan pendiam. Jika ada sebuah masalah yang sedang menimpaku, aku hanya bisa menangis dalam sepi, di kamarku yang terkunci. Dan saat aku keluar dari kamarku, aku kembali menjadi seseorang yang seakan tidak ada masalah, tetap tersenyum pada banyak orang yang aku temui setiap hari dan memendam kesedihanku dalam relung hati yang terdalam. Kadang aku lelah dan ingin menyerah, tapi papi pernah berpesan bahwa aku harus bisa membuatnya bangga, dan hidup dalam kebahagiaan dan selalu menebar kebaikan kepada banyak orang. Dan semasa hidupnya, papi juga sering bercerita tentang anak – anaknya, dari istri pertamanya. Papi selalu membanggakan mereka di depanku dan berharap bahwa aku bisa mencontoh kebaikan kakak – kakakku. Dan aku melakukannya sampai hari ini.
23 November 2004
Mami yang sedang menderita kanker rahim sejak papi meninggal, pada akhirnya menyusul papi ke surga. Semasa hidupnya, meskipun aku tidak cukup dekat dengan mami, aku berusaha tetap selalu ada untuk mami dan merawatnya saat mami sakit, hingga akhirnya meninggal. Berbeda dengan perasaan hancur yang aku rasakan saat kehilangan papi, saat mami meninggal justru aku sama sekali tidak menangis. Aku bahkan tidak mau melihat wajah mami untuk terakhir kalinya sebelum peti benar – benar ditutup. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu, aku tidak bisa mendeskripsikannya.
Wali asuh, keluarga besar dan prosesku melalui duka
Dikarenakan saat orang tuaku meninggal aku dan adikku masih berusia dibawah 21 tahun, maka kami masih membutuhkan wali asuh, untuk mengurus segala keperluan kami di rumah dan menjadi wali saat warisan orang tuaku diurus untuk masa depanku dan adikku.
Aku 3 bersaudara, dan kami punya banyak harta yang orang tua kami tinggalkan. Ada rumah berlantai dua beserta isinya berupa sebuah toko mainan, butik, salon, sanggar senam, 2 unit mobil, dan juga motor. Tidak hanya itu, papi mami juga meninggalkan sejumlah tabungan di 3 bank. Namun saat ditotal, untuk tabungan tersebut jika dibagi tiga, masing – masing dari kami hanya menerima tabungan deposito sebesar 25 juta / orang. Maka, dengan banyaknya peninggalan tersebut, budheku yang saat itu menjadi wali untukku dan adikku mengajakku mengurus surat pernyataan dan surat kuasa kepada seorang notaris.
Dan setelah itu, hidupku diatur oleh budhe. Semua kebutuhan rumah, pemasukan dan pengeluarannya dikendalikan oleh budhe. Tugasku hanya bersekolah dengan tenang.
Namun ternyata, saat aku sibuk bersekolah, ternyata budhe dan tanteku memanfaatkan kepolosanku dan mengeluarkan uang tabunganku yang 25 juta itu untuk memenuhi kebutuhan tante untuk merenovasi rumahnya. Uang tersebut keluar tanpa sepengetahuanku dan saat uang itu sudah dipakai oleh tante, aku hanya diminta untuk menandatangani surat perjanjian hutang. Yang disana menyatakan bahwa tanteku meminjam tabunganku sebesar 25 juta dan akan melunasi hutang tersebut dalam waktu 2 tahun. Namun sayangnya, surat itu hanyalah surat tanpa bukti. Meskipun ada materai, namun surat itu seperti sengaja dihilangkan oleh budhe, untuk menghapus hutang tersebut. Meskipun aku masih tidak bisa menerimanya, aku tidak bisa apa – apa. Hanya bisa berdoa, semoga Tuhan melihat semuanya dan memberi yang terbaik untuk hidupku dan keluarga tanteku. Apapun konsekuensi yang akan mereka terima.
Dan apakah yang keluarga besarku pikirkan tentang aku setelah aku menjadi yatim piatu?
Mereka berpikir bahwa aku terlihat lebih bahagia ketika aku sudah menjadi yatim piatu dibandingkan saat aku masih punya orang tua. Karena yang mereka lihat, aku selalu tertawa dan tersenyum menjalani setiap hariku setelah orang tuaku meninggal. Aku hanya bisa tersenyum saat ada banyak orang berkata seperti itu secara langsung kepadaku.
Apakah aku salah ketika aku mencoba untuk tersenyum menjalani hari – hariku tanpa orang tua? Apakah caraku memproses duka yang aku rasakan adalah sebuah kesalahan hingga keluarga besarku selalu berpikir bahwa aku bahagia hidup tanpa orang tua?
Aku hanya ingin melanjutkan hidup seperti pesan mami papi sebelum mereka meninggal. Dan menurutku, orang yang terlihat selalu tersenyum/ tertawa, bukan berarti ia tidak merasakan sedih / tidak bisa berduka. Bisa saja orang yang tertawa itu hanya sedang menutupi duka dan luka kehilangannya dari banyak mata yang melihatnya.
Masa – masa saat aku mulai dewasa
Sejak orang tuaku meninggal, aku tumbuh dewasa dengan pemikiran yang cukup berbeda dengan kakak dan adikku, hingga terkadang mereka menganggapku terlalu keras kepala. Dan orang lain yang melihatku juga berpikir bahwa aku tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dan jika teman – temanku sedang menghadapi masalah, mereka sering mencariku untuk meminta solusi untuk masalahnya. Tapi jika aku sedang ada masalah, aku hanya bisa diam. Memendam masalahku sendiri dan belajar untuk mencari solusinya sendiri. Bahkan di saat terberatku, dimana aku menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh pacarku dan teman – teman onlineku. Hingga aku tidak kuat lagi menyimpannya sendiri dan pergi ke psikiater untuk berobat. Dan setelah sekian lamanya aku berobat, aku terdiagnosa bipolar disorder dan borderline personality disorder pada tahun 2020 hingga sekarang.
Aku juga tumbuh menjadi seorang anak yang haus akan kasih sayang papi, yang dulu selalu memelukku dengan hangat dalam segala keadaan. Entah sedang senang atau sedih.
Aku dan binatang peliharaanku
Sejak aku kecil, di rumah aku punya beberapa binatang peliharaan, karena papi juga adalah seorang penyayang binatang. Ada beberapa jenis ikan, beberapa jenis burung, ayam, aku juga pernah memelihara kelinci, kura – kura dan juga anjing. Dan sejak aku tinggal di panti, apa yang papi ajarkan untuk menjadi bekal saat aku dewasa, benar – benar aku lakukan.
Di panti aku memelihara 5 kucing bernama Cireng, Molen, Baby, Latte & Michi. Aku begitu menyayangi mereka seperti seorang anak manusia.
Mereka sering aku ajak ngobrol, aku sering memberikan mereka pujian, bermain bersama, aku beri makan dan susu, terkadang mereka juga ingin tidur bersamaku, aku juga sering memeluk mereka seperti memeluk seorang anak kecil dan mereka paham waktu di saat harus pulang dan istirahat. Di masa kecilku, papi mengajarkan aku banyak hal dan salah satunya adalah mengasihi sesama dan mahkluk hidup ciptaan Tuhan.
Judul nya Childhood


Add a Comment